5 Fakta MPOX atau Cacar Monyet – Cacar monyet, atau yang dikenal dengan nama lain MPOX, adalah penyakit yang telah menimbulkan kekhawatiran di banyak negara. Penyakit ini tidak hanya menyerang manusia tetapi juga dapat mempengaruhi hewan. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus cacar monyet mengalami peningkatan, terutama di beberapa negara Afrika dan bahkan di luar benua tersebut. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu cacar monyet, bagaimana gejalanya, serta cara mengatasinya. Berikut adalah lima fakta penting mengenai MPOX atau cacar monyet, termasuk gejala dan cara penanganannya.
1. Apa Itu MPOX atau Cacar Monyet?

MPOX, atau dikenal dengan cacar monyet, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox, yang merupakan bagian dari genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1958 ketika wabah penyakit yang mirip cacar terjadi di antara monyet yang digunakan untuk penelitian. Dari situlah nama “cacar monyet” berasal. Namun, meskipun dinamai demikian, cacar monyet tidak hanya menyerang monyet, tetapi juga dapat menginfeksi manusia.
Pada manusia, cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak saat itu, penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara di Afrika, dengan beberapa kasus yang dilaporkan di luar Afrika. Cacar monyet adalah zoonosis, yang berarti penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Meskipun jarang, cacar monyet dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada individu dengan sistem kekebalan yang lemah.
2. Gejala MPOX atau Cacar Monyet

Gejala cacar monyet pada manusia mirip dengan gejala cacar yang lebih dikenal, namun biasanya lebih ringan. Masa inkubasi virus cacar monyet, yaitu waktu dari terpapar hingga munculnya gejala, biasanya berkisar antara 6 hingga 13 hari, tetapi bisa juga bervariasi dari 5 hingga 21 hari. Berikut adalah gejala umum dari cacar monyet:
a. Demam
Gejala awal dari cacar monyet biasanya adalah demam. Demam tinggi sering kali menjadi situs slot gacor tanda pertama bahwa tubuh sedang berusaha melawan infeksi virus. Demam ini bisa disertai dengan rasa lelah yang ekstrem.
b. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening
Salah satu gejala yang membedakan cacar monyet dari cacar biasa adalah pembengkakan kelenjar getah bening. Kelenjar ini bisa membengkak di leher, ketiak, atau pangkal paha.
c. Ruam Kulit
Ruam kulit merupakan gejala yang paling khas dari cacar monyet. Ruam ini biasanya muncul 1 hingga 3 hari setelah demam. Awalnya, ruam muncul sebagai bintik-bintik merah yang kemudian berkembang menjadi benjolan berisi cairan. Ruam ini biasanya mulai muncul di wajah dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya, termasuk telapak tangan dan kaki.
d. Nyeri Otot dan Sakit Kepala
Selain demam dan ruam, gejala lain yang sering muncul adalah nyeri otot dan sakit kepala. Ini adalah gejala umum dari banyak infeksi virus, termasuk cacar monyet.
e. Kelelahan
Kelelahan yang parah juga bisa mengalami penyakit cacar monyet ini. Ini biasanya disebabkan oleh kombinasi dari demam tinggi, nyeri otot, dan gejala lainnya.
Gejala-gejala ini dapat berlangsung selama 2 hingga 4 minggu, dan dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan komplikasi serius atau bahkan kematian, meskipun ini jarang terjadi.
3. Cara Penularan MPOX atau Cacar Monyet
Cacar monyet ditularkan melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit dari hewan yang terinfeksi. Di Afrika, kasus cacar monyet pada manusia sering dikaitkan dengan kontak langsung dengan hewan liar seperti monyet atau tupai, atau dengan konsumsi daging dari hewan liar yang terinfeksi.
Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi, tetapi terbatas. Cara utama penularan antarmanusia adalah melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, lesi kulit yang terinfeksi, atau benda-benda yang telah terkontaminasi oleh virus, seperti pakaian atau sprei. Penularan juga dapat terjadi melalui droplet pernapasan yang besar, tetapi ini biasanya membutuhkan kontak wajah ke wajah yang lama. Oleh karena itu, cacar monyet tidak menyebar dengan mudah di antara manusia seperti halnya penyakit pernapasan lainnya, seperti influenza atau COVID-19.
Selain itu, ada juga bukti bahwa cacar monyet dapat ditularkan dari ibu ke janin melalui plasenta, yang dikenal sebagai cacar monyet kongenital. Penularan melalui kontak saat melahirkan atau melalui kontak dekat lainnya setelah kelahiran juga mungkin terjadi.
4. Pencegahan MPOX atau Cacar Monyet

Mengingat bahwa cacar monyet adalah penyakit zoonosis, pencegahan terhadap penyakit ini sebagian besar berkaitan dengan menghindari kontak dengan hewan yang mungkin terinfeksi, terutama di daerah endemik. Berikut merupakan langkah pencegahan dari virus MPOX:
a. Menghindari Kontak dengan Hewan Liar
Salah satu cara terbaik untuk mencegah mpox atau cacar monyet adalah dengan menghindari kontak langsung dengan hewan liar, terutama di daerah yang diketahui memiliki kasus cacar monyet. Ini termasuk menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau mati, serta menghindari konsumsi daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik.
b. Menggunakan Alat Pelindung Diri
Bagi mereka yang bekerja dalam bidang yang melibatkan kontak dengan hewan atau pasien yang terinfeksi, penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat penting. Ini termasuk sarung tangan, masker, dan pakaian pelindung lainnya untuk mencegah kontak dengan virus.
c. Mencuci Tangan Secara Teratur
Mencuci tangan dengan sabun dan air secara teratur adalah langkah pencegahan yang sangat efektif untuk berbagai jenis infeksi, termasuk cacar monyet. Jika sabun dan air tidak tersedia, penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol dapat menjadi alternatif.
d. Menghindari Kontak dengan Orang yang Terinfeksi
Jika ada seseorang di lingkungan sekitar yang terinfeksi cacar monyet, penting untuk menghindari kontak dekat dengan orang tersebut. Pastikan juga untuk tidak berbagi pakaian, tempat tidur, atau barang-barang pribadi lainnya dengan orang yang terinfeksi.
e. Vaksinasi
Vaksinasi terhadap cacar pernah terbukti memberikan perlindungan terhadap cacar monyet. Meskipun vaksinasi cacar sudah tidak lagi rutin diberikan sejak cacar dinyatakan hilang pada tahun 1980, beberapa negara telah menyimpan vaksin ini sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan wabah cacar monyet.
5. Pengobatan MPOX atau Cacar Monyet
Saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk cacar monyet. Pengobatan pada dasarnya bersifat suportif, artinya mengobati gejala yang ada dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Beberapa langkah pengobatan yang dapat Anda lakukan antara lain:
a. Isolasi Pasien
Pasien yang terinfeksi mpox atau cacar monyet harus diisolasi untuk mencegah penyebaran virus kepada orang lain. Isolasi ini harus berlangsung hingga semua lesi kulit telah sembuh sepenuhnya.
b. Pengobatan Simtomatik
Pengobatan simtomatik melibatkan pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala. Ini dapat mencakup penggunaan antipiretik untuk menurunkan demam dan analgesik untuk mengurangi nyeri.
c. Cairan dan Nutrisi
Penting untuk memastikan bahwa pasien tetap terhidrasi dan menerima nutrisi yang cukup selama masa pemulihan. Dalam beberapa kasus, pemberian cairan melalui infus mungkin diperlukan jika pasien mengalami dehidrasi parah.
d. Penggunaan Antivirus
Meskipun belum ada obat antivirus yang secara khusus disetujui untuk cacar monyet, beberapa obat antivirus yang telah digunakan untuk mengobati penyakit lain dapat dipertimbangkan, terutama dalam kasus yang parah. Misalnya, cidofovir, yang digunakan untuk mengobati infeksi virus lain, telah menunjukkan beberapa efektivitas dalam mengobati cacar monyet dalam penelitian laboratorium.
Kesimpulan: Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Pencegahan
Cacar monyet adalah penyakit yang serius dan dapat menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Meskipun kasusnya masih tergolong jarang dibandingkan dengan penyakit menular lainnya, penting untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan, terutama jika Anda berada di daerah yang berisiko tinggi. Kesadaran akan gejala cacar monyet, cara penularannya, serta tindakan pencegahan yang tepat dapat membantu mencegah penyebaran penyakit ini dan melindungi diri sendiri serta orang-orang di sekitar Anda.
